Semburat
Hitam yang Menggores Senja di depan Beringin
Oleh : Wik
Beringin ini, beringin kenanganku.
Beringin yang tumbuh di tengah taman kota, kokoh dan teduh. Ada kenangan antara
aku dan pohon ini. Kenangan tentang seseorang. Dulu, lima tahun yang lalu, kami
selalu berteduh dari teriknya siang di bawah pohon ini. Sambil berdiri
memandang beringin itu, aku mencoba menggali lagi memori terakhirku dengannya,
tepatnya lima tahun yang lalu. Dengan sahabat baikku, yang ku sukai sejak dulu.
“Janji ya, lima tahun lagi kita akan
bertemu lagi di sini. Di tanggal yang sama,” katanya sambil menunjukkan
kelingkingnya meminta persetujuan dariku. Matanya menatapku lurus tanpa kedip.
Aku benar – benar tak mau berpisah
dengan sahabatku ini. Irwan. Kami sudah bersahabat sejak masih duduk di bangku
SMP. Tapi sekarang baju putih abu-abu akan kami tinggalkan.
“Udah deh, Put, janji aja dulu. Aku
tahu kok, kamu orangnya gampang dapat teman. Gini deh, sosial media aktifin
terus, jangan sampai lost-contact
sama aku. Toh, nomer handphoneku nggak
akan ganti. Ayolah Put, lima tahun itu sebentar kok. Kita juga masih akan dan
akan terus sahabatan.”
Irwan meyakinkanku dan memaksa tanganku
untuk mengaitkan kelingkingku dengan kelingkingnya. Tak bisa kutolak, dengan
wajah pasrah aku mengangguk menyanggupinya. Dalam hati ada rasa takut
kehilangan yang besar. Irwan akan kuliah di kota yang tak bisa kujangkau.
Jakarta.
***
Aku terbangun dengan segar pagi ini.
Hari ini tepat di tanggal sepuluh April, hari dimana aku dan Irwan akan bertemu
setelah lima tahun berlalu. “Ketemuan dengan Irwan di Beringin,” kataku saat
melirik kalender yang terpajang di tembok kamarku.Senyum sumringah mewarnai
pagiku hari ini.
“Kayaknya aku harus dandan lebih
cantik dari biasanya nih,” seruku sambil bercermin. Aku harus menemui Irwan
dengan bersih dan wangi. Hampir satu jam aku berdandan. Kupakai Atasan merah
muda dengan rok jeans panjang warna biru tua untuk menemuinya. Tak lupa
kusemprotkan parfume kesukaanku.
Terlihat casual, tapi cantik.
Aku bergegas menuju motor matic mungilku. Penuh semangat kulajukan
motorku ke beringin itu. Sekitar 10 menit akhirnya aku sampai. Beringin itu,
masih sepi. Masih belum kulihat sosok Irwan di dekat pohon itu. Aku lirik jam
tanganku , jarumnya menunjukkan pukul 09.00 . Tak sabar menunggu, akhirnya aku
menelepon Irwan.
“Apa, Put?” jawab Irwan dengan suara
berat. Sepertinya dia masih berada di atas kasur.
“Sudah jam berapa ini? Kok belum datang
Wan?” tanyaku.
“Memangnya kamu kemarin kasih tau
aku ketemuan jam berapa?” sahutnya balik bertanya dan itu membuatku tak bisa
menjawabnya.
“Lho iya, aku lupa bilang waktu di inbox kemarin.. terus sekarang kamu
dimana?”
“Aku ada di mana ya? Tunggu aja deh,”
KLIK. Dimatiin lagi. Menyebalkan.
Aku duduk di akar beringin itu dan
bersandar di batangnya, aku menunggu Irwan datang. Aku percaya Irwan bakal
datang. Matahari nampaknya sudah mulai terik. Tak ada tanda – tanda bahwa dia
akan datang ke beringin ini. Mataku mulai mengantuk. Ingin pulang, aku ingin
pulang saja. Tapi, hatiku berkata untuk menungguinya lebih lama. Semilir angin
yang berhembus membuat mataku perlahan terpejam dan terlelap. Aku terlelap di
bawah beringin taman kota ini.
“Put…bangun put..” aku mendengar sebuah
suara, dia menepuk – nepuk bahuku dengan pelan. Aku membuka mataku. Kulihat
paras yang tak asing bagiku. Ada beda dari yang dulu. Paras ini terlihat lebih
dewasa, ada kumis tipis tumbuh di antara mulut dan hidungnya.
“Irwan…” jawabku setelah membuka mata.
“Sudah lama nunggunya? Kok sampai
ketiduran sih..” kata Irwan, ia mengambil posisi duduk di sampingku, sama
sepertiku ia bersandar di batang beringin ini.
Aku mengangguk sambil mengucek
mataku.
“Iya,
maaf. Ini aku bawain roti buatmu. Aku rasa kamu lapar banget” Irwan pun
memberiku sebungkus roti. Aku baru sadar, sedari pagi aku tak sarapan. Lalu, kami
memakannya bersama.
Kami pun mengobrol tentang apa saja yang
kami lalui selama lima tahun. Pertemuan kami ini mengalahkan asyiknya komunikasi
di media sosial kami. Sejenak kami saling beradu tatap. Irwan bilang padaku,
bahwa aku makin cantik, lebih cantik dari foto profilku di facebook. Aku tersipu,
sekejap saja pipiku merah.
“Putri, kamu tahu kenapa aku mengajakmu
berjanji bertemu di sini?” tanya Irwan tiba – tiba, ia menatap mataku. Aku
menggeleng. Kurasa hawa yang hangat penuh tawa tadi sekarang berubah. Aku
merasa berdebar, jantungku detaknya tak beraturan.
“Aku ceritakan alasannya, tapi kamu diem
ya . jangan nyela ceritaku ya” Belum sempat aku mengeluarkan suara untuk
bertanya, Irwan memotongnya.
“Dulu, aku bertemu dengan seorang gadis
yang menggemaskan. Dia cerewet dan bawel, tapi dia cengeng. Awalnya aku hanya
berteman dengannya. Tak ada niatan sama sekali untuk jatuh cinta padanya. Tapi
apa mau dikata, aku dekat dengannya. Kian hari kian waktu, ada rasa berdebar di
sini” tutur Irwan, sambil tangannya memegang dada sebelah kirinya. Aku penasaran
sekali bertanya siapa gadis itu.
“Aku nyaman sekali di dekat gadis itu.
senang sekali rasanya saat aku melihat dia tersenyum dan tertawa lepas di
dekatku. Sebenarnya, aku berulangkali menampik perasaan sukaku padanya. Tapi
percuma, rasa itu semakin besar sampai saat ini.” mendengar penuturannya, aku
sedikit kecewa dan sedih. Aku berharap kalau itu aku, tapi kurasa bukan.
“Akhirnya, aku memutuskan untuk menjadi
temannya saja, yang selalu hadir kapan ia mau. Tapi, waktu juga yang membuatku
harus mengambil keputusan terberat. Kedua orang tuaku menginginkanku untuk
menjadi laki-laki yang berpendidikan tinggi. Akhirnya, perasaanku padanya tak
tersampaikan. Meski begitu, aku tidak ingin berpisah darinya.” Mata Irwan
menatap lurus ke kedua bola mataku. Wajah Irwan mendekat, aku menjauhkan
wajahku. Dia tersenyum.
“Kamu tahu siapa gadis itu?” tanya Irwan
sambil menyibakkan poniku. Mendengarnya aku tidak tau harus menggeleng atau
mengangguk. Bahkan jika diminta bicara pun aku tak mampu. Irwan lalu
mengeluarkan selembar foto dari dalam dompetnya. Terlihat wajah Irwan yang masih
penuh jerawat, kutaksir saat itu Irwan masih SMP. Aku mengerutkan dahi saat
Irwan memberiku foto itu.
Saat kuterima foto itu ada bagian yang
terlipat. Kukira hanya ada foto Irwan saja, ternyata saat aku luruskan bagian
yang terlipat itu muncul wajah seorang gadis. Aku melihatnya, gadis itu mirip
sekali dengan adikku. Tunggu, kalau ini mirip adikku dan di foto ini Irwan
masih SMP berarti yang disini…aku dong. Wajahku bersemu merah, aku tak bisa
mengatakan sepatah katapun. Hanya dapat melihat Irwan dengan tatapan bingung.
“Gadis
itu bernama Restu Putri Indahyani. Kamu lah orang yang aku maksud, Put. Sejak
kita masih memakai putih biru lalu putih abu – abu, hingga saat ini. Aku
menyukaimu, Put.” Irwan mengatakannya dengan tangan gemetar dan berkeringat. Air
mataku tak terbendung, aku hanya bisa mengangguk sambil sesenggukan. Apa yang
dikatakannya benar – benar tak kuduga, kami memiliki rasa yang sama sejak dulu.
Perasaannya sama denganku. Aku menyukainya sejak dulu, sejak tahun pertama aku
memakai putih abu – abu.
“Put, maukah kamu jadi pendampingku?”
pintanya padaku dengan wajah yang tidak sedang bercanda.
“Aku ingin dengar apa kamu mau nerima
aku jadi pendampingmu?” paksa Irwan, ia memegang tanganku kian erat.
“Wan, aku juga punya perasaan yang sama
saat itu, dan hingga kini aku hanya yakin bahwa aku menyukaimu.” Kujawab dengan
jujur tentang perasaanku padanya. Aku usap air mataku.
“Jadi, kamu mau jadi pendampingku?”
Pertanyaan ini sebenarnya berat untuk
kujawab, tapi aku tak ingin membuat Irwan menunggu. Aku menggeleng. “Maaf Wan,
aku gak bisa sama kamu,” sahutku. Memang benar aku masih menyukai Irwan. Andai
perasaan Irwan sejak dulu tersampaikan padaku, pastilah keadaannya tak seperti
ini.
“Kenapa Put?” tanya Irwan, mimik sedih
tampak dari raut wajahnya.
“Maaf Wan. Cari saja wanita lain yang
lebih baik dariku,” sahutku pelan.
“Kau sudah ada yang punya?”
Kukeluarkan selembar kertas berwarna
merah muda, yang tertulis namaku dan nama seseorang yang tak dikenal Irwan.
Irwan membacanya, matanya mulai mengembun dan basah.
“Put, kenapa kamu tega?” kata Irwan
begitu tahu bahwa aku akan segera menikah dengan Bram, teman kuliahku.
“Aku kira kau tak punya perasaan
apapun padaku, kukira kau hanya menganggapku seperti saudara. Aku pun tak bisa
meninggalkan Bram, dia begitu berani datang melamarku dan sungguh-sungguh
memintaku. Aku tak bisa menolaknya dengan tetap menunggumu Wan. Maafkan Putri,”
air mataku pun bergiliran jatuh membasahi pipiku.
Irwan sama sekali tak mengatakan
sepatah katapun lagi. Bersama senja yang datang menyapa kami, Irwan beranjak
pergi meninggalkan beringin itu dengan wajah tertunduk dan tangan mengepal.
Sementara aku, masih berdiri dan menangis di depan beringin ini. memandang
Irwan yang semakin jauh hingga punggungnya terlihat kecil lalu hilang.
“Aku masih sendiri,” kujawab
pertanyaannya dengan senyum yang kupaksakan.
“Lalu kenapa? Apa masalahnya? Aku suka
kamu, kamu juga suka aku,” Irwan meyakinkanku dengan menggoyang – goyangkan bahuku.
“Nanti kau akan tahu. Baiklah, sekarang sudah
sore. Aku sudah ditunggu ibu. Kau mau kuantar pulang?” kutawarkan diriku untuk
mengantar Irwan. Irwan hanya mengangguk. Selama perjalanan ke rumahnya, kami
hanya saling diam tak bersua. Aku tahu ini keputusan yang sulit bagiku.
Membiarkan kebahagiaan yang seharusnya bisa kugenggam bersama Irwan terbang
bersama angin senja.
Seminggu kemudian,
kukirimkan surat untuk Irwan lewat inbox
di facebook.
Wan,
Maaf
banget untuk perlakuanku minggu lalu. Aku tak bisa membohongi bahwa aku juga
menyukaimu. Tapi aku tak ingin berbagi kesedihan denganmu. Kamu terlalu indah
untuk kuajak berbagi sakit denganku.Sekarang ini aku perlu doamu, Aku sedang di
sebuah rumah sakit, aku menjalani kemoterapi. Doakan leukimiaku ini sembuh ya.
Aku baru tahu penyakit ini setahun setelah kamu berangkat kuliah.
Air
mataku tak tertahan jatuh membasahi pipiku. Di atas pembaringan aku mengetikkan
hal yang telah lama aku sembunyikan dari Irwan. Aku tak bisa menebak bagaimana
ekspresi Irwan saat tahu hal ini. sebelum aku berada di ruang operasi untuk
kemoterapi, aku sempat mendengar handphoneku
berdering berkali – kali. Kurasa aku tahu siapa si penelpon itu, batinku dalam
hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar