Kamis, 26 Juni 2014

Semburat Hitam yang Menggores Senja di depan Beringin (Versi Kedua)

Semburat Hitam yang Menggores Senja di depan Beringin
Oleh : Wik

Beringin ini, beringin kenanganku. Beringin yang tumbuh di tengah taman kota, kokoh dan teduh. Ada kenangan antara aku dan pohon ini. Kenangan tentang seseorang. Dulu, lima tahun yang lalu, kami selalu berteduh dari teriknya siang di bawah pohon ini. Sambil berdiri memandang beringin itu, aku mencoba menggali lagi memori terakhirku dengannya, tepatnya lima tahun yang lalu. Dengan sahabat baikku, yang ku sukai sejak dulu.
“Janji ya, lima tahun lagi kita akan bertemu lagi di sini. Di tanggal yang sama,” katanya sambil menunjukkan kelingkingnya meminta persetujuan dariku. Matanya menatapku lurus tanpa kedip.
            Aku benar – benar tak mau berpisah dengan sahabatku ini. Irwan. Kami sudah bersahabat sejak masih duduk di bangku SMP. Tapi sekarang baju putih abu-abu akan kami tinggalkan.
            “Udah deh, Put, janji aja dulu. Aku tahu kok, kamu orangnya gampang dapat teman. Gini deh, sosial media aktifin terus, jangan sampai lost-contact sama aku. Toh, nomer handphoneku nggak akan ganti. Ayolah Put, lima tahun itu sebentar kok. Kita juga masih akan dan akan terus sahabatan.”
Irwan meyakinkanku dan memaksa tanganku untuk mengaitkan kelingkingku dengan kelingkingnya. Tak bisa kutolak, dengan wajah pasrah aku mengangguk menyanggupinya. Dalam hati ada rasa takut kehilangan yang besar. Irwan akan kuliah di kota yang tak bisa kujangkau. Jakarta.
***
            Aku terbangun dengan segar pagi ini. Hari ini tepat di tanggal sepuluh April, hari dimana aku dan Irwan akan bertemu setelah lima tahun berlalu. “Ketemuan dengan Irwan di Beringin,” kataku saat melirik kalender yang terpajang di tembok kamarku.Senyum sumringah mewarnai pagiku hari ini.
            “Kayaknya aku harus dandan lebih cantik dari biasanya nih,” seruku sambil bercermin. Aku harus menemui Irwan dengan bersih dan wangi. Hampir satu jam aku berdandan. Kupakai Atasan merah muda dengan rok jeans panjang warna biru tua untuk menemuinya. Tak lupa kusemprotkan parfume kesukaanku. Terlihat casual, tapi cantik.
            Aku bergegas menuju motor matic mungilku. Penuh semangat kulajukan motorku ke beringin itu. Sekitar 10 menit akhirnya aku sampai. Beringin itu, masih sepi. Masih belum kulihat sosok Irwan di dekat pohon itu. Aku lirik jam tanganku , jarumnya menunjukkan pukul 09.00 . Tak sabar menunggu, akhirnya aku menelepon Irwan.
            “Apa, Put?” jawab Irwan dengan suara berat. Sepertinya dia masih berada di atas kasur.
            “Sudah jam berapa ini? Kok belum datang Wan?” tanyaku.
            “Memangnya kamu kemarin kasih tau aku ketemuan jam berapa?” sahutnya balik bertanya dan itu membuatku tak bisa menjawabnya.
            “Lho iya, aku lupa bilang waktu di inbox kemarin.. terus sekarang kamu dimana?”
“Aku ada di mana ya? Tunggu aja deh,” KLIK. Dimatiin lagi. Menyebalkan.
Aku duduk di akar beringin itu dan bersandar di batangnya, aku menunggu Irwan datang. Aku percaya Irwan bakal datang. Matahari nampaknya sudah mulai terik. Tak ada tanda – tanda bahwa dia akan datang ke beringin ini. Mataku mulai mengantuk. Ingin pulang, aku ingin pulang saja. Tapi, hatiku berkata untuk menungguinya lebih lama. Semilir angin yang berhembus membuat mataku perlahan terpejam dan terlelap. Aku terlelap di bawah beringin taman kota ini.
“Put…bangun put..” aku mendengar sebuah suara, dia menepuk – nepuk bahuku dengan pelan. Aku membuka mataku. Kulihat paras yang tak asing bagiku. Ada beda dari yang dulu. Paras ini terlihat lebih dewasa, ada kumis tipis tumbuh di antara mulut dan hidungnya.
“Irwan…” jawabku setelah membuka mata.
“Sudah lama nunggunya? Kok sampai ketiduran sih..” kata Irwan, ia mengambil posisi duduk di sampingku, sama sepertiku ia bersandar di batang beringin ini.
            Aku mengangguk sambil mengucek mataku.
 “Iya, maaf. Ini aku bawain roti buatmu. Aku rasa kamu lapar banget” Irwan pun memberiku sebungkus roti. Aku baru sadar, sedari pagi aku tak sarapan. Lalu, kami memakannya bersama.
Kami pun mengobrol tentang apa saja yang kami lalui selama lima tahun. Pertemuan kami ini mengalahkan asyiknya komunikasi di media sosial kami. Sejenak kami saling beradu tatap. Irwan bilang padaku, bahwa aku makin cantik, lebih cantik dari foto profilku di facebook. Aku tersipu, sekejap saja pipiku merah.
“Putri, kamu tahu kenapa aku mengajakmu berjanji bertemu di sini?” tanya Irwan tiba – tiba, ia menatap mataku. Aku menggeleng. Kurasa hawa yang hangat penuh tawa tadi sekarang berubah. Aku merasa berdebar, jantungku detaknya tak beraturan.
“Aku ceritakan alasannya, tapi kamu diem ya . jangan nyela ceritaku ya” Belum sempat aku mengeluarkan suara untuk bertanya, Irwan memotongnya.
“Dulu, aku bertemu dengan seorang gadis yang menggemaskan. Dia cerewet dan bawel, tapi dia cengeng. Awalnya aku hanya berteman dengannya. Tak ada niatan sama sekali untuk jatuh cinta padanya. Tapi apa mau dikata, aku dekat dengannya. Kian hari kian waktu, ada rasa berdebar di sini” tutur Irwan, sambil tangannya memegang dada sebelah kirinya. Aku penasaran sekali bertanya siapa gadis itu.
“Aku nyaman sekali di dekat gadis itu. senang sekali rasanya saat aku melihat dia tersenyum dan tertawa lepas di dekatku. Sebenarnya, aku berulangkali menampik perasaan sukaku padanya. Tapi percuma, rasa itu semakin besar sampai saat ini.” mendengar penuturannya, aku sedikit kecewa dan sedih. Aku berharap kalau itu aku, tapi kurasa bukan.
“Akhirnya, aku memutuskan untuk menjadi temannya saja, yang selalu hadir kapan ia mau. Tapi, waktu juga yang membuatku harus mengambil keputusan terberat. Kedua orang tuaku menginginkanku untuk menjadi laki-laki yang berpendidikan tinggi. Akhirnya, perasaanku padanya tak tersampaikan. Meski begitu, aku tidak ingin berpisah darinya.” Mata Irwan menatap lurus ke kedua bola mataku. Wajah Irwan mendekat, aku menjauhkan wajahku. Dia tersenyum.
“Kamu tahu siapa gadis itu?” tanya Irwan sambil menyibakkan poniku. Mendengarnya aku tidak tau harus menggeleng atau mengangguk. Bahkan jika diminta bicara pun aku tak mampu. Irwan lalu mengeluarkan selembar foto dari dalam dompetnya. Terlihat wajah Irwan yang masih penuh jerawat, kutaksir saat itu Irwan masih SMP. Aku mengerutkan dahi saat Irwan memberiku foto itu.
Saat kuterima foto itu ada bagian yang terlipat. Kukira hanya ada foto Irwan saja, ternyata saat aku luruskan bagian yang terlipat itu muncul wajah seorang gadis. Aku melihatnya, gadis itu mirip sekali dengan adikku. Tunggu, kalau ini mirip adikku dan di foto ini Irwan masih SMP berarti yang disini…aku dong. Wajahku bersemu merah, aku tak bisa mengatakan sepatah katapun. Hanya dapat melihat Irwan dengan tatapan bingung.
 “Gadis itu bernama Restu Putri Indahyani. Kamu lah orang yang aku maksud, Put. Sejak kita masih memakai putih biru lalu putih abu – abu, hingga saat ini. Aku menyukaimu, Put.” Irwan mengatakannya dengan tangan gemetar dan berkeringat. Air mataku tak terbendung, aku hanya bisa mengangguk sambil sesenggukan. Apa yang dikatakannya benar – benar tak kuduga, kami memiliki rasa yang sama sejak dulu. Perasaannya sama denganku. Aku menyukainya sejak dulu, sejak tahun pertama aku memakai putih abu – abu.
“Put, maukah kamu jadi pendampingku?” pintanya padaku dengan wajah yang tidak sedang bercanda.
“Aku ingin dengar apa kamu mau nerima aku jadi pendampingmu?” paksa Irwan, ia memegang tanganku kian erat.
“Wan, aku juga punya perasaan yang sama saat itu, dan hingga kini aku hanya yakin bahwa aku menyukaimu.” Kujawab dengan jujur tentang perasaanku padanya. Aku usap air mataku.
“Jadi, kamu mau jadi pendampingku?”
Pertanyaan ini sebenarnya berat untuk kujawab, tapi aku tak ingin membuat Irwan menunggu. Aku menggeleng. “Maaf Wan, aku gak bisa sama kamu,” sahutku. Memang benar aku masih menyukai Irwan. Andai perasaan Irwan sejak dulu tersampaikan padaku, pastilah keadaannya tak seperti ini.
“Kenapa Put?” tanya Irwan, mimik sedih tampak dari raut wajahnya.
“Maaf Wan. Cari saja wanita lain yang lebih baik dariku,” sahutku pelan.
“Kau sudah ada yang punya?”
            Kukeluarkan selembar kertas berwarna merah muda, yang tertulis namaku dan nama seseorang yang tak dikenal Irwan. Irwan membacanya, matanya mulai mengembun dan basah.
            “Put, kenapa kamu tega?” kata Irwan begitu tahu bahwa aku akan segera menikah dengan Bram, teman kuliahku.
            “Aku kira kau tak punya perasaan apapun padaku, kukira kau hanya menganggapku seperti saudara. Aku pun tak bisa meninggalkan Bram, dia begitu berani datang melamarku dan sungguh-sungguh memintaku. Aku tak bisa menolaknya dengan tetap menunggumu Wan. Maafkan Putri,” air mataku pun bergiliran jatuh membasahi pipiku.
            Irwan sama sekali tak mengatakan sepatah katapun lagi. Bersama senja yang datang menyapa kami, Irwan beranjak pergi meninggalkan beringin itu dengan wajah tertunduk dan tangan mengepal. Sementara aku, masih berdiri dan menangis di depan beringin ini. memandang Irwan yang semakin jauh hingga punggungnya terlihat kecil lalu hilang.

“Aku masih sendiri,” kujawab pertanyaannya dengan senyum yang kupaksakan.
“Lalu kenapa? Apa masalahnya? Aku suka kamu, kamu juga suka aku,” Irwan meyakinkanku dengan menggoyang – goyangkan bahuku.
“Nanti kau akan tahu. Baiklah, sekarang sudah sore. Aku sudah ditunggu ibu. Kau mau kuantar pulang?” kutawarkan diriku untuk mengantar Irwan. Irwan hanya mengangguk. Selama perjalanan ke rumahnya, kami hanya saling diam tak bersua. Aku tahu ini keputusan yang sulit bagiku. Membiarkan kebahagiaan yang seharusnya bisa kugenggam bersama Irwan terbang bersama angin senja.
Seminggu kemudian, kukirimkan surat untuk Irwan lewat inbox di facebook.
Wan,
Maaf banget untuk perlakuanku minggu lalu. Aku tak bisa membohongi bahwa aku juga menyukaimu. Tapi aku tak ingin berbagi kesedihan denganmu. Kamu terlalu indah untuk kuajak berbagi sakit denganku.Sekarang ini aku perlu doamu, Aku sedang di sebuah rumah sakit, aku menjalani kemoterapi. Doakan leukimiaku ini sembuh ya. Aku baru tahu penyakit ini setahun setelah kamu berangkat kuliah.
Air mataku tak tertahan jatuh membasahi pipiku. Di atas pembaringan aku mengetikkan hal yang telah lama aku sembunyikan dari Irwan. Aku tak bisa menebak bagaimana ekspresi Irwan saat tahu hal ini. sebelum aku berada di ruang operasi untuk kemoterapi, aku sempat mendengar handphoneku berdering berkali – kali. Kurasa aku tahu siapa si penelpon itu, batinku dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar